Dalam menyambut masa Kathina yang berlangsung selama satu bulan –dari tanggal 15 Oktober s/d 15 November 2007–, ada baiknya kita mengingat dan menelusuri kembali sejarah Kathina. Bagi umat Buddha, masa Kathina erat kaitannya dengan berdana kepada Sangha. Masa Kathina selalu disambut umat Buddha dengan begitu meriah, ini dapat dilihat dari semangat umat Buddha memperingati Kathina dengan berbondong-bondong datang ke Vihara. Mereka dengan perasaan bahagia, dan penuh ketulusan hati melakukan persembahan kepada Sangha.
Untuk Kathina dana 2552 T.B. Cetiya Mahasampatti, diadakan pada
Hari/Tanggal : Minggu, 09 November 2008
Bertempat di : Paramount Royal Ballroom, Jln. Putri Merak Jingga No.2 B, Medan
Waktu : 13:00 s/d selesai WIB
Tema : “Give and Recieve”
Berhubung Panitia telah mendapatkan nama2 fix anggota Sangha Theravada Indonesia (STI) yang hadir di Medan dalam rangka Perayaan Kathina 2552 T.B./2008, maka dengan kita publikasikan nama-nama anggota sangha yang hadir sbb:
1. Y.M. Atimedho Thera (Padesanayaka Provinsi Sumatera Utara)
Vassa di Vihara Jaya Manggala, Jambi
2. Y.M. Pannanando Thera
Vassa di Vihara Buddhavamsa, Bali
3. Y.M. Cittagutto Thera (Upapadesanayaka Provinsi Sumatera Utara)
Vassa di Wisma Sangha Theravada Indonesia, Jakarta
4. Y.M. Bhikkhu Santamano
Vassa di Svarna Dipa Arama, Bandar Lampung
5. Y.M. Bhikkhu Vimaladhiro
Vassa di Vihara Jaya Manggala,Jambi
6. Y.M. Bhikkhu Indaguno
Vassa di Svarna Dipa Arama, Bandar Lampung
Di tambahkan dengan anggota Sangha yang sedang ber-vassa di Cetiya Mahasampatti yaitu :
1. Y.M. Bhikkhu Khemanando
2. Y.M. Bhikkhu Candhasilo
Maka total Anggota Sangha yang hadir pada perayaan Kathina Yayasan Vihara Mahasampatti adalah 8 Bhikkhu
Susunan kepanitian Kathina Dana 2552 T.B./2008
Yayasan Vihara Mahasampatti
| Pelindung | : | 1. Pembimas Buddha Kanwil Departemen Agama Sumut. |
| 2. PD. Magabudhi Sumatera Utara. | ||
| Penasihat | : | 1. Y.M. Bhikkhu Jinadhammo Mahathera. |
| 2. Y.M. Bhikkhu Cittagutto Thera. | ||
| 3. Y.M. Bhikkhu Khemanando | ||
| Penanggung Jawab | : | Yayasan Vihara Mahasampatti. |
| Pembina | : | 1. PMy. Wirawan Giriputra. |
| 2. PMy. Rudi Hardjon Dhammaraja, S.H., S.Ag. | ||
| 3. PMd. Eddy Dhammadipa. | ||
| Koordinator | : | Upc. Yusen Effendy Taruna Suriyo, S.T. |
| Ketua | : | Upc. Ir. Rudy Rakkhito |
| Wakil Ketua | : | Upc. Kristine Yasasi, S.E. |
| Sekretaris | : | Upc. Anwar Sunarko Yantasilo, S.Kom. |
| Bendahara | : | Mila Dhitapuspitajayanti, S.E. |
| Seksi Acara | : | Junaidi Halim Jayasena, S.Farm. Apt. |
| Juni Sri Uttami, S.Kom. | ||
| Seksi Dayaka | : | Upc. Cang Jung Abhijaya |
| Seksi Humas dan publikasi | : | Suryana Nahataka, BBA |
| Seksi Konsumsi | : | Suriany |
| Seksi Dokumentasi | : | Sukiran Wongso |
| Seksi Kupon dan dana | : | Upc. Rosni Chandra Rasadhammani, S.T. |
| Seksi Perlengkapan | : | Rudi Hanto Jinaputto |
| Herry Khantiviriyapalo | ||
| Seksi Bursa | : | Rety Chang Ekavatti, S.Kom., BBA |
| Seksi Transportasi | : | Upc. Rudi Chandra Pemajanto |
| Seksi Keamanan | : | Upc. Harianto Suratano |
| Seksi Design Grafis & Penerbitan | : | Upc. Lius Hartono Padmajaya, S.T. |
Photo-photo Kathina Dana 2551 T.B./2007
Yayasan Vihara Mahasampatti
Asal Usul Hari Kathina
(Oleh: YM. Bhikkhu Dhammavicaro)
Peristiwa ini sudah berlangsung beribu-ribu tahun lamanya dan menarik sekali apabila kita telusuri bagaimana sesungguhnya Kathina sampai ditetapkan oleh Buddha Gotama?
Sejarah mencatat bahwa setelah Pencerahan Agung, Buddha melakukan perjalanan ke Taman Rusa Isipatana, di dekat Benares. Beliau membabarkan Dhamma yang dikenal dengan Dhammacakkappavattana Sutta kepada lima orang pertapa yang pernah menjadi sahabat-Nya yakni : Petapa Kondanna, Petapa Vappa, Petapa Bhaddiya, Petapa Mahanama, dan Petapa Assaji. Setelah menguraikan kotbah pertama, Buddha tetap tinggal di sana. Beliau bertemu dengan Yasa — anak seorang pedagang kaya raya di Benares — dan memberikan wejangan Dhamma kepadanya. Disamping itu, Buddha juga membabarkan Dhamma kepada ayah Yasa dan empat sahabat Yasa. Mereka beserta para pengikutnya — semuanya berjumlah lima puluh lima orang — meninggalkan kehidupan berumah tangga, memasuki kehidupan tanpa rumah (menjadi bhikkhu), dan mencapai tingkat kesucian Arahat.
Masa penyebaran Dhamma telah dimulai. Tetapi pada saat itu Buddha belum menyatakan masa vassa dan masa Kathina. Semangat untuk menyebarkan Dhamma dalam diri para Bhikkhu nampaknya sangat besar.
Hal ini bisa terlihat dari adanya sekelompok Bhikkhu yang mengadakan perjalanan pada musim dingin, musim panas maupun musim hujan (sebagaimana diketahui di India hanya dikenal tiga musim).
Melihat hal ini masyarakat mengkritik dengan mengatakan, “Mengapa para Bhikkhu Sakyaputta (murid-murid Buddha) mengadakan perjalanan pada musim dingin, panas, dan musim hujan sehingga mereka menginjak tunas-tunas muda, rumput-rumputan serta merusak kehidupan yang sangat penting dan mengakibatkan binatang-binatang kecil mati? Tetapi petapa-petapa lain, yang walaupun kurang baik dalam melaksanakan peraturan (Vinaya), namun mereka menetap selama musim hujan”.
Mendengar keluhan masyarakat tersebut, beberapa orang bhikkhu menghadap Buddha dan melaporkan kejadian di atas. Buddha kemudian memberikan keterangan yang masuk akal, dan bersabda :
“Para Bhikkhu, saya izinkan kamu untuk melaksanakan masa Vassa”.
Kemudian terpikir oleh para Bhikkhu,
“Kapan masa vassa dimulai ?”.
Mereka menyatakan hal ini kepada Buddha dan Beliau kemudian menyatakan, “Saya izinkan kamu melaksanakan masa Vassa selama musim hujan”.
Kemudian terpikir lagi oleh para bhikkhu,
“Berapa banyak periode untuk memulai masa vassa ?”.
Mereka menyampaikan hal ini kepada Buddha, Beliau berkata,
“O para bhikkhu, terdapat dua masa untuk memasuki masa vassa, yang awal dan yang berikutnya. Yang awal dimulai sehari setelah purnama di bulan Asalha (Kini dikenal dengan Hari Raya Asalha) dan yang berikutnya dimulai sebulan setelah purnama di bulan Asalha. Itulah dua periode untuk memulai musim hujan”. Sejauh ini belum ada ketetapan mengenai Kathina upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani vassa. Buddha baru menetapkan masa vassa dan sejak saat itu, para Bhikkhu melaksanakan masa vassa. Pada masa vassa para bhikkhu menetap selama musim hujan dan melatih dirinya.
Kathina mempunyai kisah tersendiri, sebagai berikut, pada waktu itu Buddha menetap di Savatthi, di hutan Jeta di vihara yang di dirikan oleh Anathapindika. Ketika itu terdapat tiga puluh orang bhikkhu dari Pava sedang mengadakan perjalanan ke Savatthi untuk bertemu dengan Buddha.
Ketika masa vassa tiba, mereka belum sampai di Savatthi. Mereka memasuki masa vassa di Saketa dengan berpikir,
“Buddha tinggal sangat dekat, hanya enam yojana dari sini tetapi kita tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Buddha”.
Setelah menjalankan masa vassa selama tiga bulan, dengan jubah basah kuyup dan kondisi yang lelah mereka sampai di Savatthi. Setelah memberi hormat, mereka duduk dengan jarak yang pantas.
Buddha berkata,
“O para bhikkhu, semoga semuanya berjalan dengan baik. Saya berharap kalian mendapatkan sokongan hidup. Selalu penuh persahabatan dan harmonis dalam kelompok. Kamu melewatkan masa vassa dengan menyenangkan dan tidak kekurangan dalam memperoleh dana makanan”.
Kemudian para bhikkhu menjawab:
“Segala sesuatu berjalan dengan baik, Bhagava. Kami mendapatkan sokongan yang cukup, dalam kelompok selalu penuh persahabatan dan harmonis, dan mendapatkan dana makanan yang cukup. Kami sebanyak tiga puluh orang bhikkhu dari Pava ke Savatthi untuk bertemu dengan Bhagava, tetapi ketika musim hujan mulai, kami belum sampai di Savatthi untuk bervassa. Kami memasuki masa vassa dengan penuh kerinduan dan berpikir, Bhagava tinggal dekat dengan kita, enam yojana, tetapi kita tidak mempunyai kesempatan melihat Bhagava. Kemudian kami, setelah menjalankan masa vassa selama tiga bulan, menjalankan pavarana, hujan, ketika air telah berkumpul, rawa telah terbentuk, dengan jubah yang basah kuyup dan kondisi yang lemah dalam perjalanan yang jauh”.
Setelah memberikan wejangan Dhamma, Buddha berkata kepada para bhikkhu,
“O para bhikkhu, Saya izinkan untuk membuat jubah Kathina bila menyelesaikan masa vassa secara lengkap……..”.
Demikianlah izin membuat jubah Kathina ditetapkan Buddha ketika Beliau tinggal di Savatthi.
Sampai sekarang Kathina tetap diperingati sebagai upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani vassa. Jadi setelah masa vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan ajaran Buddha. Hubungan harmonis antara Bhikkhu Sangha dan umat awam seperti yang tercermin dalam masa Kathina ini, sungguh merupakan suatu berkah dalam kehidupan ini. Kathina memang memberikan makna yang mendalam bagi umat Buddha.














