PANDANGAN BUDDHADHAMMA
TENTANG PERGAULAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
SEBELUM PERKAWINAN (BERUMAHTANGGA)
Pendahuluan
Buddhadhamma berarti ajaran (kebenaran) Buddha yang mengajarkan umat manusia untuk dapat terbebas dari dukkha (ketidakpuasan, beban, problem, atau masalah). Cara untuk membebaskan diri dari dukkha adalah dengan mengetahui apa dukkha itu, asal usulnya dari mana, bagaimana mengakhirinya, dan menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Buddha untuk mengakhiri dukkha. Apa yang diajarkan oleh Buddha kepada manusia adalah dengan tujuan bagaimana kita dapat membebaskan diri dari dukkha dan kemudian tercapainya Kebahagiaan Tertinggi, Nibbâna.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sebagai makhluk sosial tentunya kita dapat bergaul kepada siapa saja, tidak memandang gender/jenis kelamin, kedudukan, martabat, strata, maupun keuangan yang dimiliki. Sepanjang kita memiliki kemampuan dalam menjalin hubungan pergaulan untuk memperluas wawasan kita, tidaklah menimbulkan suatu permasalahan. Kendati demikian dalam menjalin perhubungan tentunya terdapat aturan-aturan dan batasan-batasan yang ditentukan dalam masyarakat. Misalnya : antara yang muda dengan yang lebih tua, antara yang lelaki dengan yang wanita.
Kemunculan laki-laki dan perempuan menurut Agañña Sutta
Menurut ajaran Buddha yang tertuang dalam Dîgha Nikâya; Agañña Sutta 27 dijelaskan oleh Buddha kepada Bhikkhu Vasettha dan Bhikkhu Bharadvaja ketika sedang berdiam di Sâvatthi, di Pubbârâma milik Migaramata, bahwa manusia mula-mula dalam kehidupan sekarang ini berasal dari Alam Brahma yang gemerlapan cahayanya (Âbhassarâ-Bhûmi). Mereka hidup dari ciptaan batin, diliputi oleh kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Kemudian dalam waktu yang lama sekali dalam keadaan gelap gulita, tidak ada matahari atau bulan, tidak ada bintang-bintang maupun konselasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada, laki-laki dan perempuan pun belum ada. Makhluk-makhluk yang jumlahnya tak terkira hanya dikenal sebagai makhluk saja. Kemudian mereka pada awalnya makan sari tanah, kemudian cendawan, dan tumbuhan menjalar yang memiliki warna, bau dan rasa sama seperti dadih susu atau mentega murni. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang jelek. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang jelek. Sementara mereka bangga akan keindahannya, sehingga menjadi sombong dan congkak, maka makanan tersebut berganti dari sari tanah ke cendawan dan seterusnya. Dan karena tumbuhan tersebut lenyap, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya. Hal ini berlangsung hingga sekarang ini, apabila ada barang yang hilang akan diratapi. Kemudian ketika tumbuhan menjalar lenyap, muncullah tumbuhan padi (Sali) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak, sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Selanjutnya berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu dalam waktu yang lama, tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthiliõga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisaliõga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan sebaliknya laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu perhatian, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibatnya, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna).
Pergaulan menurut ajaran Buddha
Sebagai makhluk sosial, umat manusia memang cenderung dituntut untuk menjalin pergaulan antar individu. Dari pergaulan ini, mereka diharap bisa saling memetik manfaat dengan memperluas wawasan serta pola berpikir, berwacana, bertindak, berkarya, dan berbudaya. Namun, dalam menjalin pergaulan ini, agaknya kurang arif jika seseorang hanya asal bergaul dengan siapa saja tanpa mempedulikan kualitas batiniah orang yang diajak bergaul. Pergaulan akan membawa dampak dalam kehidupan kita. Pergaulan pada umumnya dimulai dari kehidupan keluarga. Di sini kita dididik oleh orangtua kita, tentunya dengan harapan supaya kita menjadi orang baik. Pendidikan yang ada dalam keluarga ternyata dampaknya tidak begitu besar dibandingkan dengan pergaulan yang ada di lingkungan masyarakat. Pengaruh pergaulan dari luar ini dampaknya lebih besar untuk membentuk kepribadian seseorang. Bukanlah mustahil jika pergaulan dengan orang-orang tertentu justru dapat menimbulkan dampak negatif yang mengkhawatirkan alih-alih dapat memberikan suatu manfaat. Orang-orang tertentu yang dimaksudkan dalam hal ini adalah orang-orang yang bodoh atau tidak bijaksana. Oleh karena alasan-alasan yang prinsipial, pergaulan dengan orang-orang tidak bijaksana patutlah dihindari. Dalam Maõgala Sutta Buddha Gotama bersabda bahwa ”Tak bergaul dengan orang tak bijaksana dan bergaul dengan orang bijak adalah suatu berkah utama.
Dari apa yang disabdakan Buddha Gotama di atas dapat kita lihat betapa besarnya perhatian Buddha terhadap masalah pergaulan ini. Karena jika kita salah langkah dalam membina pergaulan, maka akan berdampak besar bagi kehidupan kita. Oleh karena itu kita harus bisa memilih mana orang yang patut diajak bergaul. Akan tetapi dalam hal ini, kita jangan sampai salah penafsiran bahwa Buddha mengajarkan kepada kita untuk membeda-bedakan manusia dalam hal pergaulan. Tidak demikian yang dimaksud ayat di atas.
Selanjutnya Buddha Gotama menganjurkan kita untuk bergaul dengan mereka yang bijaksana, agar kita bisa meniru sifat-sifat baik dalam cara hidup mereka. Kita juga berharap mereka dapat memberi petunjuk yang baik bagi kita, tentang pergaulan yang benar sehingga kita bisa membedakan mana yang baik atau bermanfaat dan mana yang tidak baik atau jahat. ”Anggaplah bijaksanawan yang suka menunjukkan kesalahan serta berbicaraa memberikan dorongan sebagai orang yang menunjukkan harta karun. Bergaullah dengan orang bijak seperti ini, yang hanya membawa kebaikan, tanpa menimbulkan kerugian apa pun” [Dhammapada:VI (Paóòita Vagga) 1/76].
Hendaknya kita mengambil manfaat dari pergaulan kita dengan orang bijaksana sehingga kita juga dapat menjadi bijaksana seperti mereka. Kita akan mempunyai pandangan hidup yang benar dan sesuai dengan Dhamma. Hidup kita sehari-hari diisi dengan kebajikan, menjaga moralitas, mengembangkan batin, sehingga batin kita betul-betul kuat dan tidak gampang terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Dasar dari pergaulan yang baik ini akan membentuk pola pikir dan pola hidup yang baik bagi seseorang.
Dunia ini diisi banyak ragam manusia yang mempunyai sifat, karakter, dan tingkah laku yang berbeda-beda. Sering pula dikatakan hidup ini dipenuhi dengan kepalsuan; penilaian baik atau jahat seseorang sering berdasarkan penampilan luarnya saja atau untung ruginya terhadap di penilai saja. Orang yang menguntungkan dan menyenangkan dinilai sebagai orang yang baik. Orang yang tidak menguntungkan dan tidak menyenangkan dinilai sebagai orang yang jahat/tidak baik.
Kriteria seorang sahabat
Dalam Dîgha Nikâya 31, Sigalovâda Sutta, Buddha Gotama memberikan petunjuk dalam mencari sahabat yang baik (kalyanamitta) dan menguraikan bahwa orang yang baik dapat dijadikan sahabat sejati tapi orang yang tidak baik, tidak patut dijadikan sahabat. Terdapat empat jenis sahabat sejati, yaitu :
1. Sahabat yang suka menolong; dia menjaga kita dan harta kita di saat kita lengah, melindungi kita di saat ketakutan dan membantu pekerjaan kita.
2. Sahabat di waktu senang dan susah; mempercayakan rahasianya kepada kita dan menjaga rahasia kita, tidak meninggalkan kita pada saat mengalami kemalangan serta rela mengorbankan hartanya dan bahkan jiwanya.
3. Sahabat yang suka memberi nasihat yang baik kepada kita; berusaha mencegah jika kita berbuat jahat/salah, menganjurkan kita untuk berbuat baik, memberitahukan kita untuk berbuat baik, memberitahukan hal-hal yang belum kita ketahui dan menunjukkan jalan hidup yang baik (sesuai dengan Dhamma).
4. Sahabat yang selalu memperhatikan keadaan kita; ia ikut sedih jika kita tertimpa bencana dan bergembira jika kita mengalami kebahagiaan, mencegah orang lain yang menjelekkan kita dan menyetujui orang yang memuji kita (bukan pujian yang berlebih-lebihan tetapi sesuai dengan kenyataan).
Empat macam sahabat yang ditunjukkan Buddha Gotama tersebut adalah benar-benar sahabat sejati yang harus kita cari dan bergaul dengan mereka. Jika bergaul dengan mereka bukan diri kita saja yang mendapat keuntungan, akan tetapi orang yang bergaul dengan kita juga mendapatkan keuntungan. Sahabat-sahabat sejati tersebut akan menunjukkan kepada kita hal-hal yang baik dan membawa peningkatan moral. Di samping menunjukkan sahabat yang baik, Buddha Gotama juga menunjukkan sahabat yang seharusnya kita jauhi. Empat sahabat dimaksud adalah :
1. Orang yang tamak; orang yang serakah, memberi sedikit meminta banyak, melakukan kewajiban karena takut dan hanya ingat akan kepentingan diri sendiri. Lobha adalah salah satu dari tiga akar kejahatan, secara etika berarti ketamakan (termasuk nafsu indera dan hawa nafsu), tetapi secara psikologis berarti terikatnya pikiran oleh objek-objek.
2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat sesuatu; ia menyebutkan perbuatan di masa lampau, ia menyebutkan persahabatan di masa yang akan datang, ia berusaha mendapat cinta seseorang dengan kata-kata kosong dan jika ada kesempatan untuk memberikan jasa kepada seseorang ia mengatakan tidak sanggup.
3. Penjilat; ia menyetujui hal-hal yang salah, menjauhkan diri dari hal-hal yang baik, ia memuji kita dihadapan seseorang dan menjelek-jelekkan kita dihadapan orang lain.
4. Pemboros; ia menjadi kawan jika kita menyerah pada minum-minuman keras, ia menjadi kawan jika kita suka berkeluyuran pada waktu yang salah, ia menjadi kawan jika kita mencari tempat pertunjukkan dan tempat pelesiran, ia menjadi kawan jika kita gemar berjudi.
Empat jenis kawan di atas harus kita hindari karena akan merugikan kita. Moral kita bukannya meningkat tetapi akan mengalami kemerosotan. Orang-orang yang mempunyai sifat di atas cenderung menguntungkan diri sendiri. Dari kriteria sahabat-sahabat di atas, maka kita akan dapat mengetahui mana yang harus kita jauhi dan mana yang harus kita dekati dan dijadikan teman bergaul. Hal ini juga akan menjadikan kita selalu waspada dan berhati-hati dalam bergaul.
Janganlah bergaul dengan teman-teman jahat;
Jangan pula bergaul dengan orang berbudi rendah.
Hendaknya bergaul dengan sahabat-sahabat baik, dan orang berbudi luhur.
[Dhammapada:VI (Paóòita Vagga) 3/78].
Apabila dalam pengembaraan, seseorang tak dapat menjumpai
Sahabat yang lebih baik atau sebanding [kebajikannya] dengan dirinya,
Ia hendaknya mengembara seorang diri. Tak ada persahabatan dengan orang sesat.
[Dhammapada:V (Bâla Vagga) 2/61].
Disusun oleh :
Pandita Rudi Hardjon Dhammaraja, S.H.,S.Ag.
Anggota Forum Komunikasi Pemuka antar Agama Prov. Sumut
Pengurus Daerah Majelis Agama Buddha Theravâda Indonesia Sumut
Sekretaris Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Sumut
Ketua Musyawarah Guru Mapel Agama Buddha Medan
Pejabat Pengawas Agama Buddha Kandepag Kota Medan
Dosen Agama Buddha di STMIK Mikroskil
Dosen Bahasa Pâïi di STAB Bodhidharma
Untuk disampaikan pada tanggal 6 Maret 2007
Social Science Week, tanggal 5 – 9 Maret 2007
Yayasan Pendidikan Cemara Asri
Sekolah Chandra Kusuma
Namo Budaya Pak Pandita,
Ada sebuah pertanyaan dari saya,
Memang benar kita dianjurkan tuk bergaul dengan kalangan – kalangan yang berbudi baik.
Jikalau ada satu atau dua yang mempunyai budi yang rendah, dan dengan pengakuan dari mereka ingin berubah.
Adakah cara2 untuk dapat membantu mereka?
Mohon petunjuknya.
Terima kasih.